Latihan Soal UH 3 Bahasa Indonesia Kelas 7: Mengupas Gurindam
Gurindam, sebuah bentuk puisi lama yang kaya akan makna dan nasihat, sering kali menjadi materi penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di jenjang Sekolah Menengah Pertama. Bagi siswa kelas 7, memahami karakteristik dan cara menganalisis gurindam adalah kunci untuk menjawab soal-soal Ujian Harian (UH). Artikel ini akan membahas secara mendalam latihan soal UH 3 Bahasa Indonesia kelas 7 yang berfokus pada gurindam, dilengkapi dengan penjelasan rinci dan contoh-contoh soal yang relevan. Tujuannya adalah untuk membekali siswa dengan pemahaman komprehensif agar siap menghadapi ujian.
I. Pengantar: Mengenal Gurindam Lebih Dekat
Sebelum kita melangkah ke latihan soal, penting untuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang apa itu gurindam. Gurindam adalah salah satu bentuk puisi Melayu klasik yang terdiri dari dua baris dalam satu bait. Setiap baris memiliki jumlah kata yang relatif sama, biasanya sekitar 5-10 kata, dan memiliki rima akhir yang sama. Ciri khas utama gurindam adalah fungsinya sebagai pembawa pesan, nasihat, atau ajaran moral.
-
Struktur Gurindam:
- Terdiri dari dua baris per bait.
- Baris pertama berisi soal/masalah/persoalan.
- Baris kedua berisi jawaban/akibat/solusi dari baris pertama.
- Biasanya memiliki rima akhir a-a, b-b, c-c, dan seterusnya.
- Jumlah suku kata per baris cenderung sama.
-
Fungsi dan Makna Gurindam:
- Menyampaikan nilai-nilai moral dan budi pekerti.
- Memberikan petunjuk atau nasihat bijak dalam kehidupan.
- Mengandung ajaran agama dan filosofi.
- Menjadi cerminan kearifan lokal dan tradisi lisan.
Memahami struktur dan fungsi ini akan sangat membantu dalam menganalisis isi dan makna gurindam, yang merupakan poin krusial dalam mengerjakan soal-soal UH.
II. Jenis-Jenis Gurindam dan Karakteristiknya
Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, gurindam dapat diklasifikasikan berdasarkan isinya. Meskipun tidak selalu ada pembagian jenis yang baku dan kaku, pemahaman ini membantu siswa mengidentifikasi fokus dari sebuah gurindam.
-
Gurindam Nasihat (Aturan Hidup): Jenis ini paling umum ditemui. Gurindam nasihat berfokus pada pemberian petunjuk dan anjuran tentang cara berperilaku yang baik, menjalani hidup yang benar, dan menghindari perbuatan buruk.
- Contoh:
- "Jika menuntut ilmu, carilah guru / Agar ilmumu tidaklah teragu." (Fokus pada pentingnya guru dalam menuntut ilmu).
- "Jika hendak mengenal orang berbangsa / Lihatlah kepada kelakuan dan bahasanya." (Fokus pada bagaimana karakter seseorang dapat dilihat dari perilakunya).
- Contoh:
-
Gurindam Persoalan (Masalah): Jenis ini lebih menyoroti suatu masalah atau persoalan, kemudian baris kedua memberikan semacam konsekuensi atau dampak dari masalah tersebut.
- Contoh:
- "Apabila banyak bicara, tiada berguna / Banyaklah orang yang suka celaka." (Masalahnya adalah banyak bicara tanpa faedah, akibatnya celaka).
- "Jika anak terlalu diberi uang / Maka ia jadi boros dan bertulang." (Masalahnya adalah memanjakan anak dengan uang, akibatnya jadi boros).
- Contoh:
-
Gurindam Agama: Gurindam yang isinya berkaitan erat dengan ajaran agama, keimanan, dan ketakwaan.
- Contoh:
- "Barang siapa mengenal yang empat, / Maka ia itulah orang yang beradat." (Mengenal yang empat di sini bisa merujuk pada konsep keagamaan atau moral).
- "Kepada Tuhan janganlah lupa / Niscaya hidupmu tiada merana." (Nasihat keagamaan tentang pentingnya mengingat Tuhan).
- Contoh:
Dalam latihan soal UH, siswa biasanya akan diminta untuk mengidentifikasi jenis gurindam, makna tersirat, dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.
III. Strategi Menjawab Soal UH tentang Gurindam
Untuk menghadapi soal UH tentang gurindam, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan:
-
Baca dengan Cermat: Bacalah setiap baris gurindam dengan teliti. Perhatikan pilihan kata yang digunakan dan bagaimana kedua baris tersebut saling berhubungan.
-
Identifikasi Hubungan Baris: Tentukan apakah baris pertama adalah sebab dan baris kedua adalah akibat, atau apakah baris pertama adalah masalah dan baris kedua adalah solusi/jawaban. Ini adalah kunci utama memahami gurindam.
-
Perhatikan Rima dan Jumlah Suku Kata: Meskipun bukan fokus utama dalam analisis makna, mengetahui rima dan jumlah suku kata dapat membantu mengkonfirmasi apakah sebuah kutipan benar-benar gurindam.
-
Tafsirkan Makna: Cobalah untuk memahami pesan atau nasihat yang ingin disampaikan oleh penulis gurindam. Terkadang maknanya tidak langsung terlihat dan memerlukan penafsiran. Gunakan pengetahuan umum dan konteks kehidupan sehari-hari.
-
Cari Kata Kunci: Identifikasi kata-kata kunci dalam gurindam yang memberikan petunjuk tentang topik atau pesan utamanya.
-
Hubungkan dengan Konteks Pertanyaan: Jika soal meminta identifikasi jenis gurindam, kategori mana yang paling sesuai dengan isi gurindam tersebut? Jika soal meminta pesan moral, apa pelajaran yang bisa diambil?
-
Perhatikan Pilihan Jawaban: Jika soal berbentuk pilihan ganda, bacalah semua pilihan jawaban dengan seksama sebelum memilih. Hindari memilih jawaban yang terlalu umum atau terlalu spesifik jika tidak didukung oleh isi gurindam.
IV. Latihan Soal UH 3 Bahasa Indonesia Kelas 7 (Contoh dan Pembahasan)
Mari kita praktikkan strategi di atas dengan beberapa contoh soal yang sering muncul dalam UH tentang gurindam.
Soal 1:
Bacalah gurindam berikut:
"Apabila berhati mulia,
Segala manusia menjadi mulia."
Pertanyaan:
a. Apa isi dari gurindam tersebut?
b. Apa pesan moral yang dapat diambil dari gurindam tersebut?
Pembahasan Soal 1:
-
Analisis Gurindam:
- Baris pertama: "Apabila berhati mulia" (menyatakan suatu kondisi atau syarat).
- Baris kedua: "Segala manusia menjadi mulia" (menyatakan akibat atau hasil dari kondisi tersebut).
- Hubungan: Baris pertama adalah sebab/syarat, baris kedua adalah akibat.
- Rima akhir: mulia – mulia (a-a).
-
Jawaban a (Isi Gurindam): Isi dari gurindam tersebut adalah tentang hubungan antara memiliki hati yang mulia dengan kemuliaan yang didapatkan oleh seseorang. Dinyatakan bahwa jika seseorang memiliki hati yang mulia, maka ia akan menjadi mulia di mata orang lain atau dalam pandangannya sendiri.
-
Jawaban b (Pesan Moral): Pesan moral yang dapat diambil adalah pentingnya memiliki sifat mulia dalam diri. Sifat mulia, seperti kebaikan hati, kejujuran, dan kepedulian, akan membawa penghargaan dan pengakuan kemuliaan bagi diri sendiri di tengah masyarakat. Gurindam ini menekankan bahwa kemuliaan sejati bersumber dari hati yang baik.
Soal 2:
Perhatikan gurindam berikut:
"Kurang pikir kurang siasat,
Maka ia kelak mendapat sengsara."
Pertanyaan:
a. Jelaskan hubungan antara baris pertama dan baris kedua pada gurindam tersebut!
b. Termasuk jenis gurindam apakah kutipan di atas? Jelaskan alasannya!
Pembahasan Soal 2:
-
Analisis Gurindam:
- Baris pertama: "Kurang pikir kurang siasat" (menyatakan suatu kekurangan atau kesalahan).
- Baris kedua: "Maka ia kelak mendapat sengsara" (menyatakan akibat atau konsekuensi dari kekurangan tersebut).
- Hubungan: Baris pertama adalah sebab/kondisi yang keliru, baris kedua adalah akibat yang merugikan.
- Rima akhir: siasat – sengsara (a-a).
-
Jawaban a (Hubungan Baris): Hubungan antara baris pertama dan baris kedua adalah hubungan sebab-akibat. Baris pertama, "Kurang pikir kurang siasat," menjelaskan suatu kondisi atau tindakan yang tidak bijaksana, yaitu kurangnya pemikiran dan perencanaan. Baris kedua, "Maka ia kelak mendapat sengsara," menyatakan bahwa akibat dari kurangnya berpikir dan bersiasat ini adalah seseorang akan mengalami kesengsaraan di masa depan.
-
Jawaban b (Jenis Gurindam): Kutipan di atas termasuk jenis Gurindam Nasihat atau Gurindam Persoalan yang mengandung unsur nasihat. Alasannya adalah gurindam ini memberikan peringatan atau anjuran kepada pembaca untuk tidak bersikap kurang pikir dan kurang siasat. Ia menyoroti konsekuensi negatif dari tindakan tersebut (mendapat sengsara), yang secara implisit mengajarkan pembaca untuk selalu berpikir matang dan merencanakan segala sesuatunya agar terhindar dari kesengsaraan.
Soal 3:
Gurindam:
"Jagalah lidahmu di waktu berkata,
Supaya tuturmu menjadi mulia."
Pertanyaan:
a. Apa makna dari gurindam tersebut?
b. Bagaimana cara agar tutur kata menjadi mulia menurut gurindam ini?
Pembahasan Soal 3:
-
Analisis Gurindam:
- Baris pertama: "Jagalah lidahmu di waktu berkata" (perintah atau saran untuk berhati-hati saat berbicara).
- Baris kedua: "Supaya tuturmu menjadi mulia" (tujuan dari menjaga lidah adalah agar ucapan menjadi baik dan terhormat).
- Hubungan: Baris pertama adalah tindakan yang harus dilakukan, baris kedua adalah tujuan dari tindakan tersebut.
- Rima akhir: berkata – mulia (a-a).
-
Jawaban a (Makna Gurindam): Makna dari gurindam ini adalah pentingnya mengendalikan atau menjaga ucapan saat berbicara. Ditekankan bahwa ucapan yang baik dan terhormat tidak muncul begitu saja, melainkan perlu diupayakan dengan hati-hati dalam berkata-kata.
-
Jawaban b (Cara Agar Tutur Kata Menjadi Mulia): Cara agar tutur kata menjadi mulia menurut gurindam ini adalah dengan menjaga lidah saat berbicara. Ini berarti kita harus berhati-hati dalam memilih kata, menghindari perkataan yang kasar, menyakiti hati, atau tidak pantas, serta berusaha mengucapkan hal-hal yang baik, sopan, dan membangun.
Soal 4:
Bacalah gurindam berikut:
"Jika hendak mencari ilmu,
Carilah guru yang tahu ilmu."
Pertanyaan:
a. Apa kaitan antara baris pertama dan baris kedua dalam gurindam ini?
b. Apa nasihat yang diberikan oleh gurindam tersebut?
Pembahasan Soal 4:
-
Analisis Gurindam:
- Baris pertama: "Jika hendak mencari ilmu" (menyatakan suatu keinginan atau tujuan).
- Baris kedua: "Carilah guru yang tahu ilmu" (menyatakan cara atau solusi untuk mencapai tujuan tersebut).
- Hubungan: Baris pertama adalah tujuan, baris kedua adalah cara untuk mencapai tujuan.
- Rima akhir: ilmu – ilmu (a-a).
-
Jawaban a (Kaitan Baris): Kaitan antara baris pertama dan baris kedua adalah bahwa baris pertama menyatakan tujuan (mencari ilmu), sedangkan baris kedua memberikan petunjuk atau cara untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu dengan mencari guru yang memiliki pengetahuan.
-
Jawaban b (Nasihat yang Diberikan): Nasihat yang diberikan oleh gurindam ini adalah pentingnya mencari guru yang kompeten dan berpengetahuan jika seseorang ingin menuntut ilmu. Ini menekankan bahwa proses belajar yang efektif memerlukan bimbingan dari orang yang ahli di bidangnya, bukan sekadar belajar sendiri tanpa arah.
V. Kiat Tambahan untuk Sukses UH Gurindam
Selain memahami contoh-contoh soal, ada beberapa kiat tambahan yang bisa diterapkan:
- Buat Catatan Sendiri: Setelah mempelajari materi gurindam, buatlah ringkasan atau catatan pribadi tentang ciri-ciri, jenis-jenis, dan contoh-contoh gurindam. Ini membantu memori jangka panjang.
- Latihan Mandiri: Cari sumber-sumber lain yang menyediakan latihan soal gurindam. Semakin banyak berlatih, semakin terbiasa siswa dalam menganalisis dan menjawab pertanyaan.
- Diskusi dengan Teman: Belajar kelompok dan berdiskusi dengan teman bisa sangat membantu. Tukar pemahaman tentang makna gurindam yang mungkin sulit dipahami sendirian.
- Tanyakan pada Guru: Jika ada kesulitan atau keraguan, jangan ragu untuk bertanya kepada guru Bahasa Indonesia. Guru adalah sumber informasi terbaik.
- Perkaya Kosakata: Memahami gurindam seringkali membutuhkan pemahaman akan makna kata-kata, terutama kata-kata yang mungkin terdengar arkais atau kuno. Membaca buku atau karya sastra lama lainnya bisa membantu memperkaya kosakata.
VI. Kesimpulan
Gurindam adalah warisan sastra yang berharga, penuh dengan hikmah dan nasihat. Memahami gurindam bukan hanya sekadar memenuhi tuntutan akademis, tetapi juga merupakan cara untuk meresapi kearifan para pendahulu. Dengan memahami struktur, jenis, dan strategi menjawab soal-soal yang telah dibahas, siswa kelas 7 diharapkan dapat lebih percaya diri dalam menghadapi Ujian Harian 3 mata pelajaran Bahasa Indonesia yang berkaitan dengan gurindam. Latihan yang tekun dan pemahaman yang mendalam akan menjadi kunci keberhasilan. Selamat belajar dan semoga sukses!
